Tokoh Masyarakat Qomarudin Berbicara Dekadensi Gen Z atau Kemajuan pada Hari Pahlawan di Era Global
Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang peristiwa heroik Pertempuran Surabaya tahun 1945.
@satgasnasNews |KOTA BEKASISaat itu, para pejuang dari berbagai kalangan bersatu melawan penjajah dengan semangat yang heroik, mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Tokoh-tokoh besar seperti Bung Tomo, KH Hasyim Asy'ari, dan lain-lainnya jadi simbol keberanian dan pengorbanan.
Mengenang dan memperingati Hari Pahlawan bertalian dengan Sumpah Pemuda. Sejarah Sumpah Pemuda berawal dari kesadaran para pemuda Indonesia untuk meninggalkan perlawanan yang bersifat kedaerahan dan bersatu melawan penjajahan Belanda. Peristiwa penting ini merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, kini Jakarta.
Roda era berputar. Kini (Generasi) Gen Z lahir di mana teknologi digital semakin pesat. Gen Z mahir memakai gadget, dari media sosial hingga aplikasi berbasis internet.
Di tengah hiruk pikuk era digital sekarang, muncul ironi: generasi muda yang dikenal sebagai “Gen Z” justru (dalam sebuah artikel) semakin jauh dari sejarah bangsanya sendiri.
Buntut kemudahan akses informasi ini, muncul problem besar: "banyak dari (Generasi) Gen Z yang tak lagi paham atau bahkan apatis pada sejarah bangsa." ?
Padahal Gen Z punya akses ke informasi tanpa batas lewat internet, justru lebih kenal selebriti dunia maya atau tren TikTok daripada tokoh-tokoh pahlawan nasional seperti Bung Tomo dan lain-lain.
Gejala ini sering disebut “amnesia sejarah”, yakni ketika masyarakat—terutama generasi muda—lupa akar sejarahnya. Amnesia sejarah tak sekedar tentang ketidaktahuan peristiwa masa lalu, melainkan juga hilangnya pemahaman tentang nilai-nilai yang membentuk identitas bangsa.
Sejumlah pengamat politik dan hasil survei lembaga seperti Indikator Politik Indonesia serta kajian dari berbagai universitas meluruskan stigma negatif ini.
Suara yang Tidak Didengar: Gen Z sering dicap tidak peduli terhadap urusan bernegara, namun data menunjukkan bahwa lebih dari 52% anak muda merasa aktor politik dan institusi formal belum berhasil mewakili aspirasi mereka.
Jenuh terhadap konflik elite dan janji yang tidak terealisasi memicu sikap menarik diri, yang kerap disalahartikan sebagai apatisme.
Ketiadaan Teladan Moral: Narasi sejarah formal sering kali kontras dengan realitas korupsi atau kemunduran demokrasi yang mereka saksikan hari ini. Hal ini membuat mereka mempertanyakan relevansi teks sejarah doktrinal.
Sikap dan pandangan generasi milenial serta Gen Z terkait Pahlawan, mengasumsikan bahwa pahlawan masa kini dalam "bentuk inovasi dan karya". Seperti memanfaatkan teknologi sebagai medan juang.
Jabarannya. Di tengah arus globalisasi dan era digital, Gen Z dan milenial melihat Hari Pahlawan atau pun sumpah pemuda sebagai momentum untuk melawan musuh baru seperti kemalasan (mager), penyebaran hoaks, sikap apatis, hingga isu-isu sosial melalui kreativitas digital dan teknologi.
Tokoh Masyarakat Buka Suara
Beberapa tokoh masyarakat menanggapi ini dari berbagai sudut aspek. Salah satunya Haji Qomarudin, Tokoh masyarakat yang juga ketua DPC HIPAKAD, Kota Bekasi menyebutkan bahwa generasi muda saat ini tidak membedakan Ras atau golongan, "Berbeda dengan orang- orang tua dulu yang masih banyak memegang tradisi/kebudayaan masa lalu yang terkotak-kotak." Ujarnya.
Hanya mungkin, generasi saat ini memang harus ditanamkan patriotisme "mencintai negara ini," dan anak- anak muda saat ini mudah terprovokasi, 'Mereka cepat responsif tanpa mendalami terlebih dulu." Ungkapnya.
Qomarudin juga memaparkan terkait anak anak muda di era sekarang bahwa mereka umumnya menguasai IT, Teknologi Informasi serta lebih global kebhinekaannya dari orang-orang terdahulu. Mereka umumnya memanfaatkan teknologi sebagai medan juang.
"Cuma memang dari segi patriotisme masih perlu di tingkatkan lagi ," katanya menutup pembicaraan, yang juga menyebutkan mencintai negara ini jauh lebih penting.(*)
@satgasnasNews |KOTA BEKASI
Saat itu, para pejuang dari berbagai kalangan bersatu melawan penjajah dengan semangat yang heroik, mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Tokoh-tokoh besar seperti Bung Tomo, KH Hasyim Asy'ari, dan lain-lainnya jadi simbol keberanian dan pengorbanan.
Mengenang dan memperingati Hari Pahlawan bertalian dengan Sumpah Pemuda. Sejarah Sumpah Pemuda berawal dari kesadaran para pemuda Indonesia untuk meninggalkan perlawanan yang bersifat kedaerahan dan bersatu melawan penjajahan Belanda. Peristiwa penting ini merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, kini Jakarta.
Roda era berputar. Kini (Generasi) Gen Z lahir di mana teknologi digital semakin pesat. Gen Z mahir memakai gadget, dari media sosial hingga aplikasi berbasis internet.
Di tengah hiruk pikuk era digital sekarang, muncul ironi: generasi muda yang dikenal sebagai “Gen Z” justru (dalam sebuah artikel) semakin jauh dari sejarah bangsanya sendiri.
Buntut kemudahan akses informasi ini, muncul problem besar: "banyak dari (Generasi) Gen Z yang tak lagi paham atau bahkan apatis pada sejarah bangsa." ?
Padahal Gen Z punya akses ke informasi tanpa batas lewat internet, justru lebih kenal selebriti dunia maya atau tren TikTok daripada tokoh-tokoh pahlawan nasional seperti Bung Tomo dan lain-lain.
Gejala ini sering disebut “amnesia sejarah”, yakni ketika masyarakat—terutama generasi muda—lupa akar sejarahnya. Amnesia sejarah tak sekedar tentang ketidaktahuan peristiwa masa lalu, melainkan juga hilangnya pemahaman tentang nilai-nilai yang membentuk identitas bangsa.
Sejumlah pengamat politik dan hasil survei lembaga seperti Indikator Politik Indonesia serta kajian dari berbagai universitas meluruskan stigma negatif ini.
Suara yang Tidak Didengar:
Gen Z sering dicap tidak peduli terhadap urusan bernegara, namun data menunjukkan bahwa lebih dari 52% anak muda merasa aktor politik dan institusi formal belum berhasil mewakili aspirasi mereka.
Jenuh terhadap konflik elite dan janji yang tidak terealisasi memicu sikap menarik diri, yang kerap disalahartikan sebagai apatisme.
Ketiadaan Teladan Moral:
Narasi sejarah formal sering kali kontras dengan realitas korupsi atau kemunduran demokrasi yang mereka saksikan hari ini. Hal ini membuat mereka mempertanyakan relevansi teks sejarah doktrinal.
Sikap dan pandangan generasi milenial serta Gen Z terkait Pahlawan, mengasumsikan bahwa pahlawan masa kini dalam "bentuk inovasi dan karya". Seperti memanfaatkan teknologi sebagai medan juang.
Jabarannya. Di tengah arus globalisasi dan era digital, Gen Z dan milenial melihat Hari Pahlawan atau pun sumpah pemuda sebagai momentum untuk melawan musuh baru seperti kemalasan (mager), penyebaran hoaks, sikap apatis, hingga isu-isu sosial melalui kreativitas digital dan teknologi.
Tokoh Masyarakat Buka Suara
Beberapa tokoh masyarakat menanggapi ini dari berbagai sudut aspek. Salah satunya Haji Qomarudin, Tokoh masyarakat yang juga ketua DPC HIPAKAD, Kota Bekasi menyebutkan bahwa generasi muda saat ini tidak membedakan Ras atau golongan, "Berbeda dengan orang- orang tua dulu yang masih banyak memegang tradisi/kebudayaan masa lalu yang terkotak-kotak." Ujarnya.
Hanya mungkin, generasi saat ini memang harus ditanamkan patriotisme "mencintai negara ini," dan anak- anak muda saat ini mudah terprovokasi, 'Mereka cepat responsif tanpa mendalami terlebih dulu." Ungkapnya.
Qomarudin juga memaparkan terkait anak anak muda di era sekarang bahwa mereka umumnya menguasai IT, Teknologi Informasi serta lebih global kebhinekaannya dari orang-orang terdahulu. Mereka umumnya memanfaatkan teknologi sebagai medan juang.
"Cuma memang dari segi patriotisme masih perlu di tingkatkan lagi ," katanya menutup pembicaraan, yang juga menyebutkan mencintai negara ini jauh lebih penting.(*)
QUOTES POPULER
1. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
2. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr.
3. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik."
4. "Bahwa kekayaan besar sering kali berdampingan dengan ketidaksetaraan, dan orang kaya selayaknya berkontribusi lebih pada pengeluaran publik." - Adam Smith.
5. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."
6. "Bahwa kepentingan yang mendesak akan memotivasi seseorang meski peluang tidak berpihak." - Elon Musk.

















