🌏 Selamat Hari Raya Idul Fitri 2025 / 1446 H...

Cakrawala Puisi 5


Ilustrasi: Ds


Kau Bisa Mengubur Kesombongan


Aku tak bersandar pada kesementaraan. 

Tapi aku bersandar pada Sang Pemilik Keabadian. 


Kau bisa mengubur kesombongan. 

Lalu tanam di atasnya kepatuhan

pada Dia yang telah menyediakan rejeki sepanjang hidupmu. 


Tersenyumlah ke cakrawala biru, 

tanpa abai sujud di tanah leluhurmu. 



Ilustrasi:Dok/ds


Di Bordes Kereta


Di bordes kereta, 

seorang pelacur muda

menghitung uang recehan. 

Sebelum pagi tiba, 

seorang kuli angkut

baru saja memakainya.


Air matanya menitik. 

Ia ingat pada ibunya

yang tinggal di gubuk tua. 

Ia merasa telah kalah, 

karena lapar yang menekannya. 


Ia ingin pulang sebelum senja, 

meninggalkan kota

dan lelaki yang menipunya.



Azhar lahir di Jakarta, 6 Agustus 1966. Ia menamatkan kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP Jakarta) tahun1997. 


Setelah lulus dari perguruan tinggi itu, ia sempat bekerja sebagai wartawan. Ia juga menulis puisi, cerpen, dan novel serta melukis.*


___________________


Di Kotamu, Kau Sudah Jadi Masa Lalu

Painting: Ds Bre' Iswoyo


Di kotamu,  kau sudah jadi masa lalu, disimpan dalam album dan dikunci di laci sebuah lemari. 

Udara membawa jamur ke tubuhmu,  menempelkan warna kuning dan coklat hingga kau tak dikenali.


Di kotamu, kau sudah jadi masa lalu, diabaikan sebagai gedung bersejarah.

Rayap dan waktu mengeroposkan tiang-tiangmu.

Dan pelacuran mengubahmu jadi ranjang tidur para pelipur. 


Di kotamu,  kau sudah jadi masa lalu, dicabarkan sebagai bida’ah, dihapus dari kitab-kitab pusaka hingga tak ada yang bisa mendedah untuk makna.


Di kotamu, kau sudah jadi masa lalu, diludahkan anak-anak muda sambil menghirup tuba dari ganja  dan mariuana. 


Kawan 

Painting:Ds Bre' Iswoyo

Seorang kawan adalah perih di dada

duri tertanam di kaki saat kau langkah

luka digarami membuat nyeri abadi

tapi tak kau biarkan hidupmu dirongrong sakit hati


Seorang kawan acap datang membawa cahaya ketika kau rasa gelap saat segalanya terang dan matamu buta hingga kehilangan arah

maka hidupmu kembali akan penuh dan riang


•Budi Hatees

akudasi.jpgBudi Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis puisi, cerpen, esai, novel, dan melakukan penelitian. Karyanya disiarkan di Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Majalah Horison, Republika, Media Indonesia, dan puluhan buku. 


Saat ini menjadi peneliti di bidang komunikasi dan punya minat besar terhadap masalah sejarah dan kebudayaan.  Mendirikan media online,  mengelola Penerbit Pustaha, dan menjadi trainer dalam pelatihan menulis  secara online maupun offline.   


Senin, Februari 07, 2022



18 Buah Langka Dari Kalimantan


Perjalanan Pelawak Senior Prapto Pempek


Menukilkan kisah otobiografi Suprapto Suryani Pempek, alias Prapto Pempek atau dipanggil akrabnya PakDe dalam 3 episode.


"Dulu kami setiap tahun bikin acara Satgasnas Award  untuk para Tokoh Nasional di Hotel Horison Ancol," ungkapnya saat diwawancara...

.





        


Tidak ada komentar: